Senin, 01 Agustus 2016
ALAS KAKI
Kini pagi berlabu
Sandarkan peluh pada bahu
Wajah kaum ayah utarakan selaska harap
Pada persimpangan lahan
Terkuai seribu satu penat
Deretan padang gersang
Berbatu ganas mesti nya
Sekeras beton pada hujung nya
Kaum ayah kekar kan tubuh
Dari onggokan tanah tanpa serpihan
Kian batu bersembunyi di balik gumpalan
Cangkulmu kau ayuh
Jauh ke atas
Pantul mentari enggan singgah
Pada pekat nya tanah
Terterah tebal di atas ujung besi tuamu
Garis tanganmu tertulis sehaska
Jiwa
Demi kami
Syair anak pipit
Menyatu dalam gemah nolstalgiamu
Senyum ria abaikan bulir letihmu
Sehelai topi bernaung pada kepalamu
Dalm ruang panasnya hari
Tangan kasarmu tak
Kau gubris demi kami
Ragamu yang letih tak
Kau kisah untuk kami
Letih jiwamu tak
Kau sandarkan pada naluri kami
Semangatmu bukan batu sandungan
Untuk berhenti menaruh harap
Kian berseri
Kami ukir semangat belajar kami
Di bawah alas kakimu yang kusam
Di tutupi kerasnya tanah
Semangatmu masa depan kami
Peluhmu sukses kami
Letihmu semangat kami
Pacul yang dalam
Agar kami tau bahwa hidup ini tidak selamanya selicin lumut hijau
Kadang kami harus tau
Bahwa tanah juga memberi keras pada raga
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar