Minggu, 31 Juli 2016

ADALAH BENAR MERINDUKANMU AYAH !




Sepasang langit  beredar jauh
Sekeping awanpun berlalu sengit
Menunda senja berpaling pulang,
Adalah rindu yang terapung lama
Di bahumu, ketika ku uraikan cerita ini. 
Untuk Mu Ayah !

Lama aku terdiam dalam isak suara tangis , 
mulutku terbungkam diantara jarak rindu yang terlentang,
Aku padamu, engkau  ayah adalah pelangi sehabis hujan . 
Yang tak pernah gagal mewarnai hidupku.
Aku anakmu !

Lama sudah rasa hilang ini terbenam bersama mentari .
Masih aku junjung kisah ini. Ayah !
Kamu sosok yang sulit kujangkau diantara miliaran orang yang ku jumpai dan kukenali .
Anjungan tanganmu mengimbasku  kecakrawala, 


Meskipun orang kata kita adalah fana dan waktu adalah abadi !
Namun tak gentar aku meluapkan rindu yang sekian lama menyiksa jurai hatiku. 
Sekalipun tangis -tawa akan pulang , malam akan berlalu Dan senja akan beralih, 
aku tetap mengoyak lembar bisuku, akan kujadikan cerita malam ini penuh kerinduan .

Seperti bolamataku yang  merindui jejakmu.
memangku beban emas dari besi kayu, 
larut bersama langkah di seling bayang tanpa melodi .
Keriput elok terlukis kentara ,
Pikirku kekar badanmu  yang dulu menopangku menghitung bintang,
Kini pudar ditutup serambi tulang disamping kiri-kanan.
 Bahumu telah lama murung ! Aku menerka hari ini .

Butir air mukamu masih tersedup rapi, 
Pada layaran bingkai dua puluh dua tahun lamanya.
Begitu juga deru pokok kelapa melambai nyiur dipersimpangan tanah kering, waktu itu .
Musim berlalu, waktu berputar
Masih juga aku jumpai jalan itu menyerupai lengkungan surga dan neraka .

Dulu katamu !
Jangan dengar orang kata apa pada bapakmu nak !
Lihatlah pokok kelapa ini,
Buahnya jatuh terkadang jauh dari pohonnya ! "

Aku terpinga -pinga, mendesah kobaran katamu,
 Pikirku candamu adalah kebiasaan tanpa arti .
Namun seiring berjalanya waktu, hinggah matahari masih setia pada petang.
 Dan tanah masih kuat menangkis hujan membasahi ingatanku seketika dini .

Aku bersetujuh bahwa adalah benar, aku kehilanagn secuit makna pada tuturmu .
Aku lena bersama manisnya tawa yang pikirku adalah bahagia abadi ,
Tanpa tersadar bahawa aku lupa menabung emas dan permata dari syair yang kita lalui bersama di sepanjang perjalan aspal dan potongan jalan tapak beroman berputrimalu tinggi .

Sungguh aku merindui banyak hal tentangmu Ayah .

Karena sejauh apapun raga kita terpisah, namun bagiku ayah adalah bapa. Yang tetap sama dan tetap satu dalam hati ini .
Tanpa cintamu ayah , aku bukan aku yang saat ini berdiri dua kaki tanpa mempelawa jemarimu .

Aku merindukanmu ayah !
"Kau sosok yang menginspirasi"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar