Sepasang langit beredar jauh
Sekeping awanpun berlalu sengit
Menunda senja berpaling pulang,
Adalah rindu yang terapung lama
Di bahumu, ketika ku uraikan cerita ini.
Untuk Mu Ayah !
Lama aku terdiam dalam isak suara tangis ,
Lama aku terdiam dalam isak suara tangis ,
mulutku terbungkam diantara jarak rindu yang terlentang,
Aku padamu, engkau ayah adalah pelangi
sehabis hujan .
Yang tak pernah gagal mewarnai hidupku.
Aku anakmu !
Lama sudah rasa hilang ini terbenam bersama mentari .
Masih aku junjung kisah ini. Ayah !
Kamu sosok yang sulit kujangkau diantara miliaran orang yang ku jumpai dan kukenali .
Anjungan tanganmu mengimbasku kecakrawala,
Lama sudah rasa hilang ini terbenam bersama mentari .
Masih aku junjung kisah ini. Ayah !
Kamu sosok yang sulit kujangkau diantara miliaran orang yang ku jumpai dan kukenali .
Anjungan tanganmu mengimbasku kecakrawala,
Meskipun orang kata kita adalah fana dan waktu adalah abadi !
Namun tak gentar aku meluapkan rindu yang sekian lama menyiksa jurai hatiku.
Sekalipun tangis -tawa akan pulang , malam akan berlalu Dan
senja akan beralih,
aku tetap mengoyak lembar bisuku, akan kujadikan
cerita malam ini penuh kerinduan .
Seperti bolamataku yang merindui jejakmu.
Seperti bolamataku yang merindui jejakmu.
memangku beban emas dari besi kayu,
larut bersama langkah di seling bayang tanpa melodi .
Keriput elok terlukis kentara ,
Pikirku kekar badanmu yang dulu menopangku menghitung bintang,
Keriput elok terlukis kentara ,
Pikirku kekar badanmu yang dulu menopangku menghitung bintang,
Kini
pudar ditutup serambi tulang disamping kiri-kanan.
Bahumu telah lama
murung ! Aku menerka hari ini .
Butir air mukamu masih tersedup rapi,
Butir air mukamu masih tersedup rapi,
Pada layaran bingkai dua puluh dua tahun lamanya.
Begitu juga deru pokok kelapa melambai nyiur dipersimpangan tanah kering, waktu itu .
Musim berlalu, waktu berputar
Masih juga aku jumpai jalan itu menyerupai lengkungan surga dan neraka .
Dulu katamu !
Jangan dengar orang kata apa pada bapakmu nak !
Lihatlah pokok kelapa ini,
Buahnya jatuh terkadang jauh dari pohonnya ! "
Aku terpinga -pinga, mendesah kobaran katamu,
Begitu juga deru pokok kelapa melambai nyiur dipersimpangan tanah kering, waktu itu .
Musim berlalu, waktu berputar
Masih juga aku jumpai jalan itu menyerupai lengkungan surga dan neraka .
Dulu katamu !
Jangan dengar orang kata apa pada bapakmu nak !
Lihatlah pokok kelapa ini,
Buahnya jatuh terkadang jauh dari pohonnya ! "
Aku terpinga -pinga, mendesah kobaran katamu,
Pikirku candamu adalah kebiasaan tanpa arti .
Namun seiring berjalanya waktu, hinggah matahari masih setia pada petang.
Namun seiring berjalanya waktu, hinggah matahari masih setia pada petang.
Dan tanah masih kuat menangkis hujan membasahi ingatanku
seketika dini .
Aku bersetujuh bahwa adalah benar, aku kehilanagn secuit makna pada tuturmu .
Aku lena bersama manisnya tawa yang pikirku adalah bahagia abadi ,
Tanpa tersadar bahawa aku lupa menabung emas dan permata dari syair yang kita lalui bersama di sepanjang perjalan aspal dan potongan jalan tapak beroman berputrimalu tinggi .
Sungguh aku merindui banyak hal tentangmu Ayah .
Karena sejauh apapun raga kita terpisah, namun bagiku ayah adalah bapa. Yang tetap sama dan tetap satu dalam hati ini .
Tanpa cintamu ayah , aku bukan aku yang saat ini berdiri dua kaki tanpa mempelawa jemarimu .
Aku merindukanmu ayah !
Aku bersetujuh bahwa adalah benar, aku kehilanagn secuit makna pada tuturmu .
Aku lena bersama manisnya tawa yang pikirku adalah bahagia abadi ,
Tanpa tersadar bahawa aku lupa menabung emas dan permata dari syair yang kita lalui bersama di sepanjang perjalan aspal dan potongan jalan tapak beroman berputrimalu tinggi .
Sungguh aku merindui banyak hal tentangmu Ayah .
Karena sejauh apapun raga kita terpisah, namun bagiku ayah adalah bapa. Yang tetap sama dan tetap satu dalam hati ini .
Tanpa cintamu ayah , aku bukan aku yang saat ini berdiri dua kaki tanpa mempelawa jemarimu .
Aku merindukanmu ayah !
"Kau sosok yang menginspirasi"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar