Sabtu, 17 Maret 2018

What the Dog Saw


 
 Di pertigaan hari kemarin banjir dimana-mana
Dimana-mana buih-buih manusia penuh
Neraka tidak lagi kosong
Penjara jadi saksi

“ mereka tertawa kecil”

Senyum simpul memikat dalam
Banjir banjiri tanah
Hati masih berlapang
Tanah lapang tak berlapangan

“ mereka tertawa sedang”

Anak – cucu manusia mulai gerogi
Anjing-anjing tak sempat melolong
Anak-anak cicak tak lagi mengusung tembok
Semut-semut tak bertulang berpaling

“mereka tertawa sinis”

Taman kanak-kanakku roboh
Hati-hatiku ikut roboh
Jantungku copot
Tanahku tak berbobot

“mereka tertawa besar”

Dapat makanan gratis
Rumah darurat
Susu beruang
Lalu anjing bertanya

“untuk apa anjing tertawa anjing”




Senin, 19 Februari 2018

Samudra Merah


 
Senja berpaling. Seberkas cahaya memar
Rona jingga samarkan hati. Kabut tipis menuai rindu
Alangkah elok ciptaan Yahwe
Kering gersang rindu memikat

Kusingkap lagi setiap tetes rindu
Bening matamu bawa harap   
Simponi kisah papaskan peluk
Hatiku ketir singkapi airmatamu

Dua Boneka Kecil





Pada dinding kebiruan dan kursi mungilku
Duduk sepasang mata iba. Dua tangan kocar-kacir
Dua telinga tergantung dan satu hati menyatu
Di pinggir rak buku mini lahirlah pemilik puisi

Di telaga malam. Ketika matahari lelah bersinar
Dua boneka mungil meloncat di atas mesin-mesin huruf
Binar matanya membendung sungai
Hatinya rontok. Sang waktu menyaksikan

Selekas penat mempertemukan.
Dua boneka kecoklatan merajut salam.
Kini pukul dua-tiga tujuh subuh.
Mereka mematung. Dua tangan lainya berpesta menyambut puisi.



Bulan Yang Merana



Di atas langit kau duduk menenun asmara
Berpuluh-puluh tahun yang lalu aku merintih dalam doa
Seorang lelaki menemuiku dalam mimpi
Begitu elok sayup mata mendera riak wajahnya

Para perawan dibawah kaki bukit menghentak lonceng tua
Bulan masih berpapas sedang bintang mengayomi anak-anaknya
Langit teduh seduh sedan
Ada aku disebalik sinar

Bulan masih sama mempelitai batas kota
Kali ini para janda menjuntai para perjaka
Niat hati merenungi kisah bulan. Apa daya
Tangisku pecah pada bulan yang merana